Showing posts with label homeschool. Show all posts
Showing posts with label homeschool. Show all posts

Wednesday, December 28, 2011

Anak Juara atau Anak Sukses, Jelas BEDA !



Di sekolah setiap hari anak2 kita di ajari untuk MENGHAPAL data dan fakta bahkan di ujianpun mereka hanya sekedar memuntahkan kembali data-data dan fakta yg dihapalkan nya. Semua rumus ilmu eksakta sekalipun merupakah HAPALAN YANG DILATIHKAN DAN LATIHAN UNTUK DI HAPALKAN.

Anak-anak yg dulu saat bersekolah mau melakukannya dan berhasil melakukannya akan di katakan sebagai anak PINTAR atau JUARA. Sementara anak yg menolak untuk MENGHAPAL DATA DAN FAKTA INI akan di kelompokan sebagai anak GAGAL DAN BODOH.

Sementara saat berada dikehidupan nyata anak-anak kita akan di tuntut agar selalu mampu BERPIKIR, MENGANALISIS data dan fakta yg ada MENGGUNAKAN LOGIKA MEREKA untuk MENGOLAHNYA MENJADI STRATEGI DAN SOLUSI BAGI SETIAP MASALAH YG DI HADAPI, BAIK DI PERUSAHAAN ATAUPUN DIRUMAH.

Saturday, November 26, 2011

Mitos Seputar Homeschooling

Saat berdiskusi tentang pendidikan, saya sering berusaha menyelipkan topik pendidikan alternatif dan homeschooling atau sekolahrumah. Setiap kali berdiskusi tentang sekolahrumah itu pula, saya selalu diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang berulang mengenai kerugian sekolahrumah bagi anak-anak. Padahal semua pertanyaan itu bersifat mitos yang begitu mudah dibantah karena memang tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Jadi sekarang saya tulis blog post ini agar lain kali bila ada yang bertanya seputar mitos homeschooling saya tinggal menjawab, “Lihat di blog saya saja.” So here goes…

Siswa homeschooling tidak bersosialisasi.

Hmm, seandainya saya diberi Rp 10.000,- setiap kali ada yang bertanya soal yang satu ini, mungkin saya sudah menjadi jutawan sekarang. Sosialisasi dalam homeschooling adalah keberatan yang paling sering diajukan dan selalu ditanyakan pertama kali, padahal ini yang paling mudah dibantah. Mitos ini muncul dari ketidaktahuan tentang kegiatan homeschooling sebenarnya. Banyak orang berasumsi bahwa dalam homeschooling anak tidak keluar dari rumah dan hanya belajar sendiri atau berdua orang tuanya mulai dari pagi sampai sore. Kalau seperti itu ya pasti si anak jadi kuper.

Pada kenyataannya, siswa homeschooling lebih sering mengadakan studi lapangan kapan pun mereka mau. Saat waktunya belajar sejarah, mereka pergi ke museum dan berinteraksi dengan komunitas pecinta sejarah. Ingin belajar bisnis? Sambil makan di McDonald’s dan berbincang dengan manajernya dan para karyawannya saja. Siswa sekolah formal berinteraksi hanya dengan teman-teman yang seusia dan dikumpulkan dalam satu kelas seharian. Kalau siswa homeschooling? Dengan banyak orang dari segala lapisan usia dan pekerjaan! Banyak riset yang membuktikan bahwa siswa homeschooling dapat bersosialisasi sebaik, atau bahkan lebih baik, dari para sebayanya di sekolah formal, dan mereka menunjukkan lebih sedikit masalah perilaku pula.

Siswa homeschooling tidak punya teman.

Mengapa Tidak Perlu Ijazah Guru untuk Homeschooling

Begini pertanyaan yang sering ditanyakan kepada orang tua homeschooling:
Bagaimana mungkin kamu pikir kamu bisa memberikan pendidikan yang setara dengan sekolah?
Bagaimana mungkin kamu bisa, padahal pendidikanmu tidak setinggi guru-guru di sekolah? Setiap guru paling tidak sudah lulus sarjana, bahkan mereka sudah mendapatkan sertifikat mengajar. Kamu kan nggak? Kalau misalnya kamu juga sarjana, kamu kan cuma punya satu gelar di satu bidang studi. Mana mungkin kamu mengalahkan semua guru sekolah yang memegang gelar di bidangnya masing-masing?
Misalnya, anakmu lemah dalam pelajaran Fisika, dan kamu membayar seorang mahasiswa teknik untuk memberikan les tambahan. Dalam beberapa bulan, dengan les yang cuma dua jam sepekan sekali, nilai-nilai ujian Fisika anakmu meningkat, dan kamu merasa puas.
Lalu kenapa, bagaimana bisa, seorang mahasiswa yang tidak berpengalaman mengajar ratusan murid bertahun-tahun, tidak punya gelar sarjana, tidak punya sertifikasi guru, seperti guru Fisika di sekolah, ternyata bisa mengajar anakmu dengan lebih baik?

Bagaimana Memulai Homeschool..??

Bismillah

Disusun oleh Mutiara Ummu Sumayyah

Bagi anda yang tertarik dan masih bingung bagaimana memulai homeschool buat anak-anaknya, disini saya kutipkan summary Question & Answer dari milis SHS ( sunni home schooling ) paling tidak bisa menjawab sebagian besar keraguan kita. Jika ada yang terlewat anda bisa langsung bertanya lewat milis SHS atau di FACEBOOK fan pagenya


Pertanyaan :
Ana mau tanya.
*Bagaimana cara memulai HS?
Apa harus daftar ke diknas (kalau iya, apa syarat dan berapa biaya)?
*Bagaimaina kurikulum pelajaranx? Bebas atau ikut diknas?
Untk Tk gmana?
*Unttk ujian naik kelas dan rapot apa ada? Dan Mekanismenya gmana?
* jam belajarnya per hari brp jam, perminggu berapa hari atau flexible aja?

# Jawaban ary susanti ummu abbas :
Ana mau tanya.
> *Bagaimana cara memulai HS?
= Mulai saja umm dari yang mudah dan dari yang kita bisa ^^

> Apa harus daftar ke diknas (kalau iya, apa syarat dan berapa biaya)?
= Setahu ana nggak perlu daftar dan nggak ada biayanya. Daftar nanti ketika mau
ikut ujian paket atau daftar ke sekolah kalau mau ikut ujian dengan sekolah.

Sunday, November 20, 2011

Islamic Homeschooling for Everyone

Upaya mengembalikan fungsi rumah sebagai wahana tarbiyah Islamiyyah sebagaimana diamalkan Salaful Ummah


Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.

Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.(tidak ada pilihan sekolah bermanhaj salaf misalnya)

Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.

Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan 'pelanggaran terhadap hak asasi anak'.

Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak 'membela diri', bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan : wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah.