Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Wednesday, December 14, 2011

YOU CANNOT BUILD A GOOD LIFE THROUGH A WEAK CAREER

Anda tidak akan dapat membangun kehidupan yang baik melalui sebuah karir yang lemah.

Tidak sedikit pribadi dan profesional yang bekerja keras di dalam pekerjaan yang belum membuatnya berfokus pada kekuatan-kekuatannya, untuk mencapai hasil yang mengindikasikan kemajuan menuju sesuatu yang menyejahterakan dan membahagiakan.

Apakah Anda juga termasuk mereka yang sedang bertanya-tanya?

Apakah yang mungkin Anda capai dari pekerjaan Anda sekarang?

Sudah berapa lamakah Anda berpikir mengenai ketepatan karir Anda?

Apakah telah jelas bagi Anda kualitas masa depan dari karir Anda sekarang?


Tetaplah bertanya, karena jawaban hanya datang kepada yang bertanya.

Mario Teguh said that one person don't running in two or more careers in the same time. You'll be failed. Ok I will give you the description, while on two jobs in the same time in on full busy situation, what will you do? My assumption is you will focus on one job and pass the other(s). OK, may be you will say "Now I'm fine in two careers". I only answer good but remember that situation someday, somewhere, some time, will be happened to you. Mario give some humor from one of movie (I forgot the title he said before) as example, one man with two girl friends. One day the man has sent short message with wrong destination. The message that want to send to the first girl, now already sent to second girl. And the short message that want to send to the second girl already sent to the first girl. What will you do? All of this can happened if you do not focus to one point. At least of story, both of girls has broke up the relationship with the man.
Do you want it happened in your career if I assume the girls on the sample as your career?
First Make a choice now !!!!

Friday, November 25, 2011

MANUSIA TUPOKSI



On June 10, 2011, By Satria Dharma

Sebuah berita di Tribun Kaltim dengan judul “Sumbangan Pakar Dipertanyakan’ dengan sub-judul “Unmul Mestinya Bisa Jawab Berbagai Persoalan di Kaltim”. (Tribun Kaltim, Sabtu 4 Juni 2011 halaman 13) menarik perhatian saya. Ternyata ada gugatan terhadap Universitas Mulawarman (UNMUL), sebuah PTN terbesar di Kalimantan Timur yang memiliki 13 Fakultas dengan jumlah mahasiswa sebesar lebih dari 35 ribu orang dan diasuh oleh lebih dari 1000 orang dosen. Gugatannya adalah bahwa PTN ini, yang memiliki lebih dari 1000 orang dosen dengan seratus lebih orang doktor di berbagai bidang dinilai belum mampu melahirkan sarjana-sarjana handal yang dibutuhkan industri di Kaltim. Kontribusi para pakar Unmul dalam menyelesaikan persoalan-persoalan aktual yang sedang berkembang di Kaltim pun dipertanyakan. Kalau pakai istilah anak muda jaman sekarang judul tersebut tepatnya,:”Pada Ngapain Aja Lu Selama ini…?!”.

Wednesday, November 23, 2011

Lari Kencang Menteri Dahlan


Meski kehilangan Fadel Muhammad, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 2 hasil reshuffle mendapatkan Dahlan Iskan. Dahlan,seperti Fadel, adalah seorang “doer”. Larinya kencang, matanya jeli, dan yang lebih penting lagi, ia tahu mana yang jadi prioritas yang harus segera diputuskan.

Ibarat nasabah yang diangkat menjadi bankir atau bankir yang diangkat menjadi juru runding debitor yang tengah bermasalah, Dahlan Iskan tahu apa yang dirasakan oleh masing-masing BUMN. Doing from the other side ot the table!. Kini Dahlan harus berunding dengan “bank” yang membinanya, praktis jurus-jurus yang dipegang “bank” ada di tangannya.  Dari direksi BUMN yang biasa diberi arahan oleh kementerian yang basisnya adalah birokrasi, kini ia berada di sisi birokrasi. Yang harus ia benahi adalah kantor kementeriannya agar “in line” dan “senafas” dengan BUMN yang dituntut berkinerja.


Nafas Berbeda
Sejak kementerian BUMN didirikan, dan aset-aset BUMN dipisahkan dari Direktorat Pembinaan BUMN – Departemen Keuangan, sebenarnya sudah ada banyak kemajuan. Menteri Tanri Abeng, profesional, yang datang bersama-sama CEO terkemuka Indonesia (Robby Djohan dan Abdul Gani) melakukan gebrakan riil. Laksamana Sukardi, yang juga mantan CEO meneruskan membawa lebih banyak lagi para praktisi ke dalam BUMN. Di era Sofyan Djalil, selain ditanamkan prinsip-prinsip  good governance, ia juga agresif membawa masuk  CEO profesional ke dalam BUMN.

Tetapi, seperti layaknya memindahkan ikan samudra ke dalam  “fresh water” yang biasa dihuni ikan-ikan air tawar, tidak semua ikan-ikan hiu itu survive. Sebagian mabuk sempoyongan. Hiu yang biasa mengarungi samudera luas melawan predator-predator raksasa kini harus hidup bersama-sama ikan-ikan konsumsi yang larinya tak sekencang mereka. Berlari kencang, terlalu banyak dinding yang harus diterjang. Melihat agresifitasnya, pemilik kolam yang tak biasa  melaut sering dibuat kecut. Alih-alih membuat ikan-ikan konsumsi berlari lebih cepat, ikan-ikan samudera lah yang direm, dijadikan ikan kolam.

Saturday, November 19, 2011

Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?


Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit, sehingga kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai. Kita bermain layang-layang, menangkap belut,bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa,dan keringat.
Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,Twitter,Online Games, warung internet,dan bimbingan belajar.

Pergaulan fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran, sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anakanak kita? Bukannya dikurangi, melainkan semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak.

Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anakanak sekolah hanya mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit ”The Power of Simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, ”kalau terlalu mudah, tidak akan melahirkan kehebatan”.

Friday, November 18, 2011

SEKOLAH UNTUK APA...???


Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.
Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serbasulit ini?